A.
Latar
Belakang IKM
Kesehatan
masyarakat merupakan salah satu modal pokok dalam rangka pertumbuhan dan
kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan hal ini secara optimal diselenggarakan upaya
kesehatan.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan dasar atau upaya kesehatan rujukan dan atau upaya kesehatan penunjang. Selain itu, sarana kesehatan dapat juga dipergunakan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan serta penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan (Aslam; 2003).
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakannya disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan dasar atau upaya kesehatan rujukan dan atau upaya kesehatan penunjang. Selain itu, sarana kesehatan dapat juga dipergunakan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan serta penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan (Aslam; 2003).
Pelayanan
farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang
pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah
Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang
tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang berorientasi kepada
pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi
klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat (Depkes; 2004).
Mengingat
pentingnya pelayanan farmasi rumah sakit, maka calon apoteker perlu memahami
dan mengenal peran apoteker di rumah sakit dengan memperhatikan peranann
apoteker pada bagian tersebut.
B.
Sejarah
IKM
Evolusi Kedokteran dan kesehatan
masyarakat
Sejarah
evolusi kedokteran dan kesehatan masyarakat pada hakekatnya sejajar dengan
sejarah evolusi peradaban manusia,karena keduanya adalah sebagian saja dari
kebudayaan manusia. Kedua ilmu tersebut berkembang dari seni atau ilmu
pengobatan.
Dasarnya
mula-mula adalah pengetahuan alam dan biologi bercampur dengan magis spiritual.
Baru belakangan sekali pengetahuan sosial dan perilaku masuk di dalamnya. Dalam
sejarah di negara-negara barat, mula-mula gereja dengan biara-biaranya ikut
campur menangani ‘penyakit dan penderita’ tersebut di atas, dan campur tangan
pemerintah atau negara baru terjadi belakangan.
Baru
kemudian nilai-nilai hak azasi manusia masuk. Baru dalam beberapa puluh tahun
yang lampau bidangkedokteran mulai meluas dari yang tadinya hanya bersifat
‘bed-side treatment’ dan ‘individual clinical consultation’ kemudian berkembang
menjadi ‘public and community health problems’.
Primitive Medicine
Keterampilan
pengobatan yang dikuasai nenek moyang pada mulanya sebagian besar didasarkan
pada penyakit adalah kutukan dewa, kemasukan roh jahat, pengaruh setan-setan
dan lainnya yang bersifat magis dan tahayul. Oleh karena itu upaya-upaya
pengobatan pada waktu itu sebagian besar dalam bentuk do’a-do’a, mantera,
jimat-jimat, pengorbanan, upacara-upacara pengusiran setan dan roh jahat,dll
sejenisnya. Penggunaan ramuan obat pada zaman prasejarah sejarah sebenarnya
juga sudah dikenal meskipun mungkin masih sangat primitif. Berdasarkan
pengamatan dan pengalaman dalam upaya tadi, sebagian mungkin sudah berdasarkan
cara yang lebih rasional dan empiris. Kemudian keberhasilannya diajarkan secara
turun temurun dan tradisional kepada anak cucunya hingga sekarang.
Unsur-unsur
dan praktek primitive medicine kadang masih tersisa dalam masyarakat primitive
dan suku terasing di daerah pedalaman. Kadang cara tersebut juga masih dipraktekkan
dimasyarakat tertentu pada zaman sekarang dengan berbagai versi. Tetapi
kategorinya bukan primitive lagi, tetapi lebih tepatnya sebagai supernatural.
Cara tersebut dapat dianggap sebagai kombinasi ilmu kedokteran yang empiris
dengan kemampuan supernatural tadi, maupun dengan kemampuan yang termasuk
paranormal yang cukup banyak peminatnya dimasa dewasa ini.
Berbeda
dengan hal tersebut, pengobatan tradisional oleh pemerintah justru diangkat
menjadi salah satu program upaya pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.
Pengobatan tradisional tersebut terutama ditekankan pada upaya pemanfaatan
pengobatan atau pemakaian ramuan obat yang sudah diwariskan oleh nenek moyang
yang sudah jelas khasiatnya, hanya masih perlu diselidiki lebih lanjut secara
lebih ilmiah dan lebih rasional penggunaannya.
Beberapa catatan tentang ilmu
kedokteran kuno
Catatan
tentang pengetahuan kedokteran kuno ditemukan di India (dalam kitabWeda). Juga
di Tiongkok, yaitu dasar tentang hygiene, ilmu dietetik, hydro-therapy,
message, variolatiaon(penularan dengan sengaja terhadap cacar) untuk mencegah
penyakit cacar yang sudah dikenal dan obat-obatan yang sudah dikenal pada zaman
itu. Menurut peribahasa Cina, dokter yang baik adalah mereka yang sudah berbuat
tidak saja pada orang sakit, tapi juga sehat.
Pada
zaman Mesir kuno, pengetahuan kedokteran dicatat dalam ‘papyrus’, tercatat
kurang lebih 800 ramuan. Minyak castor, asam lanat, terpentin, gentian, dan
bahan-bahan obat lainnya yang sudah dikenal di zaman ini. Pada waktu itu sudah
dikenal dasar-dasar ‘inuculation’ terhadap cacar, hubungan nyamuk dan malaria,
hubungan antara tikus dan sampar (pes) serta dasar-dasar hygiene sanitasi
lainnya. Kedokteran Mesir kuno berlangsung kurang lebih 2500 tahun sebelum
munculnya kedokteran yunani kuno.
Di
jaman yunani kuno ilmu kedokteran dan kesehatan mencatat kemajuan yang
mengesankan. Kumpulan naskah tulisan tentang metode-metode klinik dihimpun
dalam dokumen (corpus hippo craticum) mencoba menguraikan kejadian penyakit
dalam segi iklim, penyediaan air, cara berpakaian, makanan, kebiasaan makan dan
minum, dll
Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
di Indonesia
Pada
tahun 1808 Daendles mendirikan ‘militair geneeskundig (MGD)’ untuk keperluan
kedokteran militer, sebagai mulainya ada fasilitas kesehatan berlandaskan
kedokteran modern.
Thomas
Stanford Raffles (1811) mendirikan civil ‘civil medical service’ yang tidak
terlalu lama sudah dimulai program vaksinasi dan pemberantasan penyakit
kelamin.
Tahun
1918 didirikan Standsverbandhuis di Jakarta untuk pengobatan dan perawatan.
Dr.W.Bosh mendirikan ‘sekolah dokter jawa’ untuk mengatasi kesehatan orang
pribumi. Program-program kesehatan masyarakat mulai dihidupkan lagi setelah
revolusi fisik yaitu dimulai dengan bantuan UNICEF (1950).
Tanggal
12 November 1959 ditetapkan sebagai hari kesehatan nasional di Indonesia.
Undang-undang tentang ‘pokok-pokok kesehatan’ dikeluarkan 1960, disusul
undang-undang karantina laut dan udara, undang-undang wabah tahun 1962 tahun
1968disusun rencana kesehatan nasional dimana konsep puskesmas pertama kali
dikenalkan tidak lama lagi program KB nasional dilancarkan.undang-undang
tentang kesehatan no 23 tahun 1992 diterbitkan untuk mengganti undang-undang
tentang pokok kesehatan No 9 tahun 1960. Rumusan GBHN 1993 menggariskan PJP-II sudah
diuraikan juga pada pelita VI bidang kesehatan.
Kesehatan Dunia
Pandemi sampar (pes atau pelaque) abad
ke-14 menyebabkan penguasa pelabuhan internasional di Venesia membuat aturan
karantina bagi kapal-kapal yang datang dari daerah terjangkit tapi persetujuan
beberapa negara akan hal itu baru dimulai tahun 1992.
‘Organisasi kesehatan’ dari lembaga
bangsa-bangsa didirikan di Geneva pada tahun 1993 sehabis perang dunia I banyak
organisasi Internasional bermunculan. Konverensi kesehatan internasional oleh
PBB (UNO) tahun 1946 di New York menghasilkan anggaran dasar untuk berdirinys
orgsnisasi kesehatan dunia. Yang secara resmi mulai aktif sejak 1948 dan
tanggal 7 April diakui sebagai hari kesehatan dunia.
C.
Pengertian
IKM
Pengertian Kesehatan Masyarakat Menurut Winslow (1920) bahwa
Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni : mencegah penyakit,
memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha
Pengorganisasian masyarakat “ untuk : (Notoatmodjo, 2003)
1.
Perbaikan sanitasi lingkungan
2.
Pemberantasan penyakit-penyakit
menular
3.
Pendidikan untuk kebersihan
perorangan
4.
Pengorganisasian pelayanan-pelayanan
medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan.
5.
Pengembangan rekayasa sosial untuk
menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara
kesehatannya.
Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat
adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan
masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari batasan ini
dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan
sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.
Banyak
disiplin ilmu yang dijadikan sebagai dasar ilmu kesehatan masyarakat antara
lain, Biologi, Kimia, Fisika, Kedokteran, Kesehatan Lingkungan, Sosiologi,
Pendidikan, Psikologi, Antropologi, dan lain-lain. Berdasarkan kenyataan ini
maka ilmu kesehatan masyarakat merupakan
ilmu yang multidisiplin. Namun secara garis besar,
disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut
sebagai pilar utama Ilmu Kesehatan Masyarakat ini antara lain :
1. Administrasi Kesehatan Masyarakat.
2. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
3. Biostatistik/Statistik Kesehatan.
4. Kesehatan Lingkungan.
5. Gizi Masyarakat.
6. Kesehatan Kerja.
7. Epidemiologi.
Mengapa ilmu kesehatan masyarakat merupakan ilmu yang multi
disipliner, karena memang pada dasarnya Masalah Kesehatan Masyarakat bersifat
multikausal, maka pemecahanya harus secara multidisiplin. Oleh karena itu,
kesehatan masyarakat sebagai seni atau prakteknya mempunyai bentangan yang
luas. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah penyakit
(preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental,
dan sosial) atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik,
mental, sosial) adalah upaya kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003)
Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan
sebagai seni atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain sebagai
berikut :
1. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak
menular.
2. Perbaikan sanitasi lingkungan
3. Perbaikan lingkungan pemukiman
4. Pemberantasan Vektor
5. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat
6. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
7. Pembinaan gizi masyarakat
8. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat Umum
9. Pengawasan Obat dan Minuman
10. Pembinaan Peran Serta Masyarakat
D.
Ruang
Lingkup IKM
IKM pada tahap permulaannya memang telah
berkembang sebagai salah satu bagian dari ilmu kedokteran, sehingga ruang
lingkup ipteknya banyak tumpang tindih dengan ilmu induknya tersebut bahkan
dasar-dasarnya sebagian besar sama, hanya beda pada beban muatan materinya.
Semua mata ajaran di tingkat Pra-Medik,
Pra-Klinik, dan Para-Klinik yang diajarkan di fakultas kedokteran diajarkan
juga di FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat). Perbedaannya mulai terlihat
setelah tingkat Para-Klinik, yaitu di fakultas kedokteran lalu mengarah ke
klinik, sedangkan pada tingkat yang setara di FKM arahnya menuju ke materi
iptek yang khusus IKM dengan berbagai peminatan-peminatan yang tersedia,
seperti: AKM (Administrasi Kesehatan Masyarakat), Epidemologi, Bio-Statistik,
KL/KK (Kesehatan Lingkungan/Kesehatan Kerja), PK/IP (Pendidikan Kesehatan/Ilmu
Perilaku), dan lain-lain.
Dalam definisi IKM menurut Winslow
(1920) yang seolah-olah menunjukan pemisahan peran bidang kedokteran dalam
bidang kesehatan masyarakat. Pemisahan peran yang demikian sekarang sudah tidak
relevan dan tidak perlu lagi dipersoalkan karena pada hakikatnya dalam segala
komponen peran keduanya hampir tidak terpisahkan secara jelas.
Ruang lingkup IKM di bidang keperawatan
juga sudah lama mendapat perhatian. Dalam jenjang-jenjang pendidikan
keperawatan, baik pada tingkat dasar maupun pendidikan tinggi, materi
pengetahuan IKM adalah salah satu mata ajaran penting. Pendidikan dasar
keperawatan untuk tenaga paramedik di Indonesia yang semula dititik beratkan
hanya pada keperawatan bidang klinik oleh departemen kesehatan RI pernah
direoreantesikan ke bidang yang menitikberatkan pada kesehatan masyarakat.
Masalah tumpang tindihnya ruang lingkup
seperti contoh di atas juga terjadi di bidang iptek yaitu di bidang ‘kedokteran
gigi’ dan juga ‘keperawatan gigi’ (untuk tenaga para mediknya). Munculnya sub
spesialisasi dalam beberapa bidang spesialisasi klinik, seperti pediatri-sosial
dan obstetri-sosial, dll dan munculnya konsep yang lebih menyeluruh dalam
sistem pendidikan kedokteran semuanya menunjukan bahwa pada hakikatnya ruang lungkup bidang
klinik dan kesehatan masyarakat meskipun dapat dikatakan bisa dipisahkan, tapi
fungsi dan peran ipteknya sebenarnya saling mengisi dan saling menunjang satu
sama lain.
Konsep Kesehatan
Pada
hakikatnya kesehatan dapat diartikan sebagai kondisi yang normal dari kehidupan
manusia. Kesehatan adalah hak azasi setiap manusia yang dibawa sejak lahir.
Hidup sehat adalah hidup yang mengikuti hukum alam atau cara-cara alamiah baik
dari segi fisik, kejiwaan, dan lingkungan hidupnya.
Hukum
alam ini menyangkut kebutuhan untuk udara segar, istirahat, relaksasi, tidur,
kebersihan, sikap mental yang baik, kebiasaan yang baik, dan pola hidup yang
baik, dll.
Rumah-rumah
sakit dan poliklinik serta fasilitas pengobatan lainnya selalu penuh kebanjiran
penderita yang sakit, tapi kurang sekali institusi atau fasilitas yang dapa
melayani atau mengajarkan masyarakat tentang bagaimana ia dapat mencegah
penyakit dan mempertahankan kondisi sehatnya.
Kesehatan
sering kali di anggap sebagai sesuatu yang sudah dengan sendirinya begitu.
Orang merasa tidak perlu memikirkannya sampai kesehatannya direnggut darinya.
Selama ia dalam keadaan sehat, maka selalu ada kebutuhan lainnya yang dinilai
lebih penting dan kondisi kesehatannya dapat diabaikan.
Upaya Untuk Mewujudkan Derajat
Kesehatan Masyarakat
Beberapa
indikator kesehatan, seperti umur harapan hidup, angka kematian bayi, angka
kematian ibu melahirkan, gizi buruk, angka kematian dan kesakitan oleh penyakit
yang dapat dicegah dengan immunisasi makin tahun makin menunjukkan peningkatan.
Demikian pula pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan dan penyediaan tenaga
kesehatan makin merata, makin meningkat jumlah dan kualitasnya.
Tetapi,
di saat segenap bangsa Indonesia pada umumnya dan komponen kesehatan khususnya
memperingati Hari Kesehatan Nasional pada 12 November 2008, patut kita akui
ternyata tantangan baru di bidang kesehatan muncul yang mengakibatkan
seolah-olah pembangunan kesehatan jalan di tempat. Tantangan baru seperti
narkoba, penyakit HIV/AIDS, dan flu burung yang semakin meningkat
permasalahannya seolah-olah menutupi keberhasilan pembangunan kesehatan. Belum
lagi kemajuan teknologi bidang medik dan kesehatan yang semakin canggih
mengakibatkan biaya untuk penyediaan pelayanan kesehatan makin mahal. Sementara
kemampuan masyarakat untuk membeli jasa pelayanan kesehatan tidak sejalan
dengan kenaikan biaya pelayanan kesehatan. Hal ini menjadi keluhan masyarakat
yang membutuhkan pelayanan kesehatan seolah-olah menguak ketidakberhasilan
pembangunan kesehatan.
Pemerintah,
karena berfungsi sebagai otoritas pembangunan kesehatan mempunyai tanggung
jawab atas keberhasilan pembangunan kesehatan, wajar menjadi tumpuan sekaligus
hujatan masyarakat atas permasalahan kesehatan.
Mengingat
pembangunan kesehatan begitu luas dan kompleks, tidak mungkin seluruh aspek
pembangunan kesehatan dikerjakan oleh pemerintah. Komponen bangsa lainnya
seperti masyarakat, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, para
pebisnis dapat dan wajib membantu pemerintah dalam menyukseskan pembangunan
termasuk di bidang kesehatan.
Untuk
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sehingga kualitas bangsa
meningkat sebetulnya banyak faktor yang mempengaruhinya. Seperti perilaku
masyarakat, kondisi lingkungan masyarakat, pelayanan kesehatan dalam arti yang
luas, dan ada juga pengaruh keturunan walaupun perannya sangat kecil.
Intervensi
yang memerlukan biaya murah tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan
masyarakat adalah terhadap faktor lingkungan dan perilaku masyarakat dalam
mendukung hidup sehat.
Sementara
pelayanan kesehatan mempunyai pengaruh yang agak kecil dalam mewujudkan derajat
kesehatan, tetapi membutuhkan dana yang besar. Sayangnya perhatian masyarakat
lebih banyak tertuju pada pelayanan kesehatan yang paling banyak dirasakan oleh
masyarakat. Tuntutan yang terus-menerus, mendorong pemerintah untuk semakin
memperluas usaha- pembangunan sarana kesehatan untuk bisa semakin memeratakan
jangkauannya.
Walaupun
memerlukan biaya besar dibanding dampak yang ditimbulkan untuk mewujudkan
derajat kesehatan tampaknya pemerintah lebih memprioritaskan untuk kebutuhan
jangka pendek yaitu menyelenggarakan pembangunan pelayanan kesehatan daripada
mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menuju hidup sehat dan
meningkatkan kesehatan lingkungan. Ini karena membangun sarana pelayanan
kesehatan dampak politiknya jauh lebih kelihatan dan lebih besar. Tidak heran
kalau pemerintah kabupaten berlomba-lomba mengucurkan dananya untuk rumah sakit
atau mengubah puskesmas menjadi puskesmas perawatan. Sementara untuk dana
operasional puskesmas bagi pembinaan masyarakatnya sangat seret.
Kebijakan
mengubah puskesmas menjadi puskesmas perawatan belum menyentuh kepentingan
masyarakat karena banyak puskesmas perawatan yang mubazir tanpa pernah ada yang
menghuni untuk dirawat. Kecuali, puskesmas yang jauh dari rumah sakit atau ibu
kota kabupaten seperti Nusa Penida, Kintamani, Kubu dan Seraya yang daerahnya
terpencil. Akibatnya kucuran dana oprasional puskesmas untuk program promosi
dan preventif menjadi seret, sehingga tidak intensifnya/terbengkalainya
upaya-upaya pembinaan guna menyehatkan lingkungan dan mengubah perilaku
masyarakat untuk hidup sehat
Kondisi
ini diperburuk lagi dengan perubahan pola organisasi pemerintahan di tingkat
kecamatan yang menempatkan puskesmas di bawah camat. Sehingga, otonomi dokter,
baik sebagai kepala puskesmas maupun sebagai tenaga fungsional merasa
dikendalikan oleh staf kecamatan sehingga motivasi dokter sebagai kepala puskesmas
kemungkinan terpengaruh. Kondisi seperti ini akan bisa dinetralisasi kalau
sebagian besar dari tenaga kesehatan, terutama dokter memahami bahwa kesehatan
itu adalah hak asasi manusia, sehingga pemerintah dan tenaga kesehatan
bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat.
Jadi
yang menjadi kompas/pedoman tenaga kesehatan adalah kepentingan masyarakat, apa
pun bentuk dan hirarki organisasi kesehatan di tingkat kecamatan.
Peran IAKMI
Kalau
kita amati pembangunan kesehatan saat ini, tampak terjadi perubahan paradigma
di mana pembangunan kesehatan lebih banyak dilaksanakan oleh pemerintah,
sedangkan masyarakat lebih banyak menuntut. Seolah-olah kesehatan itu
semata-mata tanggung jawab pemerintah. Peran serta masyarakat dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat semakin hari semakin menyusut. Dampaknya terjadi
pergeseran dalam konsep pembangunan kesehatan, di mana pembangunan untuk
program kuratif/pengobatan dan rehabilitatif lebih mendapat prioritas akibat
tuntutan masyarakat yang lebih gencar di bidang ini daripada pembangunan
kesehatan dengan program promotif dan preventif.
Dengan
perkembangan teknologi kesehatan dan teknologi kedokteran semakin meningkat
pembiayaan untuk program kuratif/pengobatan dan rehabilitatif menyedot dana
semakin tahun semakin besar. Sedangkan untuk program-program promotif dan
preventif semakin mengecil mendapat porsi dana padahal program preventif dan
promotif mempunyai dampak yang jauh lebih besar dalam meningkatkan derajat
kesehatan, bahkan dapat mengurangi pembiayaan program kuratif.
IAKMI
-- Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia -- sebagai sebuah perkumpulan, di
mana berkumpul para pakar-pakar di bidang kesehatan masyarakat, mempunyai peran
dan tanggung jawab membantu pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan
kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Banyak
hal yang bisa disumbangkan oleh IAKMI dalam pembangunan kesehatan masyarakat,
yang arahnya untuk mengubah paradigma pembangunan, menyeimbangkan peran
pelaksana pembangunan agar seimbang antara peran pemerintah dan peran
masyarakat. Juga mengubah paradigma program pembangunan agar seimbang antara
program promotif dengan program kuratif dan rehabilitatif. Peran ini bisa dilaksanakan
lewat tawaran konsep-konsep pembangunan yang berwawasan kesehatan, yang bisa
disampaikan kepada otoritas pembangunan kesehatan seperti Dinas Kesehatan
kabupaten/kota maupun provinsi. Bisa juga aktivitas langsung kepada
kelompok-kelompok masyarakat lewat pembinaan perubahan perilaku masyarakat
menuju hidup sehat dan mewujudkan lingkungan sehat.
Peran
juga bisa diwujudkan dengan mendorong masyarakat menyisihkan dana kesehatan
buat keluarga dengan ikut dalam jaminan kesehatan masyarakat daerah (Jamkesda).
Hari
Kesehatan Nasional yang jatuh pada 12 November merupakan suatu momen bersejarah
bagi pengurus IAKMI yang baru dalam berkiprah membantu pemerintah dan
masyarakat dalam mewujudkan masyarakat sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar